pedulihukum

direskrim polda jateng mengundurkan diri

In Uncategorized on Juli 13, 2010 at 9:35 pm

Telah saya tulis di awal bahwa dimana proses perpindahan jabatan baik perwira maupun bintara yang seharusnya melalui rapat khusus akan tetapi tidak pernah dilakukan.Dengan anggapan semua uang dan kekuasaan di Polda Jawa Tengah adalah bermatahari kepada Kapolda.
Sehingga pengkondisian yang dilakukan Kapolda sengaja dilakukan untuk mengumpulkan pundi2 Rupiahnya yang tersimpan rapih dan susah di deteksi. Hal tersebut membuat kombes didiet selaku direskrm polda jateng menjadi jengah atas kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh kapolda sekaligus atasanya secara struktural.
Bukti nyatanya,ada perwira staf yang memberikan program mengenai Rekiden online yang dijual seharga 2 Milyard(dua Milyard) dan di beli oleh Kapolres2 se-Jawa Tengah dan sudah di serahkan kepada Kompol Tora sekitar satu tahun yang lalu.tetapi kenyataannya,program ini tidak pernah terwujud lebih dari satu tahun,malahan meskipun kenyataan tersebut tergolong penipuan,ternyata Kompol Tora menyebut diri sebagai orang terdekat Kapolda dan terbukti dengan jabatan2 yang di berikan kepadanya oleh Kapolda.sehingga membuat opini kepala kewilayahan bahwa dana yang terkumpul adalah untuk upeti KAPOLDA.
Melihat gelagat atasannya yang arogansi dan sering semena-mena menyelawengkan jabatannya sebagai KAPOLDA dan melanggar kode etik kepolisian kombes Didiet berusaha untuk menutupi (seperti penyelesaian kasus pernikahan bawah umur syeh puji, yang tiba-tiba saja beritanya menghilang dengan akhir cerita kaburnya sang pengacara, sedangkan berita yang berkembang di masyarakat adanya dana sebesar 3 Milyar Rupiah mengalir ke Rek Pribadi Kapolda). Tapi kenyataan dilapangan berbeda seperti yang di harapkan, kombes didiet mendapat teguran keras dari Alex Bambang Riatmojo , terkait banyak kebijakan kapolda yang di rasa tidak sesuai.maka kombes didiet memutuskan untuk mengundurkan diri jabatannya selaku direkrim kapolda jawa tengah .

Dengan mundurnya kombes didit sebagi direskrim seharusnya Alex Bambang Riatmojo instropeksi diri atas semua kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tapi bukannya instropeksi diri alex Banmang Riatmojo malah semakin menjadi-jadi dengan mengeluarkan statement-statement yang menyudutkan rivalnya dan merasa menjadi anak mas dari presiden ,.

suara rakyat

In Uncategorized on Juli 13, 2010 at 5:58 pm

Surat ini merupakan harapan besar warga masyarakat Jawa Tengah dalam rangka membangun komitmen-komitmen Presiden yang berkaitan dengan Good Governance menuju pemerintahan yang bersih dan berkarakter sesuai dengan nilai moral dan etika bangsa.

Sangatlah tidak bertanggung jawab, manakala kami sebagai wakil rakyat tidak peka terhadap masalah – masalah yang menjadi keresahan warga Jawa Tengah ini. Kami ingin menginformasikan mengenai kinerja Kepolisian di Jawa Tengah. Surat ini merupakan yang kesekian kalinya kami layangkan sebagai keluhan dan kritisi kami atas kinerja Kepolisian Jawa Tengah terutama kearogansian Kapolda Jawa Tengah (Alex Bambang Riatmojo) yang kami tujukan kepada bapak Kapolri dengan harapan adanya pengantian sosok baru dengan kualitas visioner untuk jabatan Kapolda Jawa Tengah.
Penjabaran dari permasalahan kami adalah menyikapi Grand Strategi Polri mengenai Trust Building yang mana merupakan satu strategi yang sangat mendasar bagi Polri “Membangun kepercayaan masyarakat “.
Sebagai kunci anggota Polri dalam memberikan perlindungan hukum, memberikan pelayanan hukum dan penegakan hukum terhadap masyarakat. Masyarakat Jawa Tengah sangat menyayangkan ketika implementasi Grand Strategi tersebut di Jawa Tengah hanya berupa slogan-slogan dan statement-statement belaka saja dan hal ini membuat gerah masyarakat Jawa Tengah, oleh karena aparat yang berulah merupakan pemangku jabatan tertinggi di kepolisian Jawa Tengah, yaitu Kapolda Jawa Tengah (Alex Bambang Riatmojo).

Kami dari anggota dewan Jawa tengah pernah beberapa kali menanyakan akan penyelesaian beberapa kasus besar yang meresahkan masyarakat jawa tengah (seperti penyelesaian kasus pernikahan bawah umur syeh puji, yang tiba-tiba saja beritanya menghilang dengan akhir cerita kaburnya sang pengacara, sedangkan berita yang berkembang di masyarakat adanya dana sebesar 3 Milyar Rupiah mengalir ke Rek Pribadi Kapolda).

Citra diri yang penuh kesantunan yang selama ini diperlihatkan di depan masyarakat umum dan Apresiasi Kapolda terhadap pemuka agama, kami tidak percaya bahkan kami sangat mendukung keberadaannya di Jawa Tengah. Akan tetapi semenjak kami mempertanyakan
hal tersebut, malah kami mendapat ancaman akan diperiksa oleh Kepolisian Jawa Tengah. Kami melihat Kesantunan bapak Kapolda ini bukan cerminan hati melainkan topeng “PENCITRAAN DIRI” yang dilakukan lebih “meriah” bahkan lebih “heboh” dari pada Calon legislatif dan Calon kepala daerah, sehingga justru tugas-tugasnya memimpin Kepolisian yang seharusnya memberi rasa aman di tengah Masyarakat Jawa Tengah adalah sebaliknya tidak ada realitas kerja akan tetapi terkesan sombong dan terkenal Arogan.
Sebagai akumulasi Informasi-Informasi yang kami dapatkan (sumber: masyarakat umum, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, beberapa pejabat dari institusi – institusi lain, pejabat – pejabat kepolisian jawa tengah, beberapa kepala kepolisian di kabupaten) yang sangat arogan dan penuh trik, terlihat antara lain:

Penangkapan pemain sepak bola di surakarta yang mana kapolda langsung turun ke lapangan tanpa menghargai aturan dilapangan.

Seringnya melontarkan kata-kata yang arahnya ingin membuat konflik dengan . . . institusi-institusi lain baik dari TNI maupun Pemerintahan didepan forum-forum umum, guyonan sombong dengan kesan paling hebat. (misalnya: di jawa tengah ini Gubernur dan Pangdam itu tidak mungkin berani dengan saya, karena presiden itu paling percaya dengan saya, jadi kalo berani macam-macam akan saya laporkan presiden).

Banyaknya kasus-kasus kejahatan di Jawa Tengah (seperti perampokan dan pembunuhan, belum lagi kasus penembakan aparat kepolisian) yang tidak terselesaikan dan ketika kami tanyakan kepada pejabat di polda Jateng, jawaban yang kami terima adalah: “bagaimana bisa bekerja, pak kapolda itukan sukanya jalan-jalan, makan siang di wilayah-wilayah dan membawa kami-kami ini. Lalu kapan kami mau kerjanya? Kan tidak mungkin kerja kami biasa optimal.” kami bertanya “apa pak kapolda tidak ingin menyelesaikan?” . dijawab: “kapolda ini, yang penting setoran dan pelayanan saja jadi aman, konon kabarnya setoran-setoran ini juga untuk Bapak Presiden. lihat saja mafia hukum saja bertahan lama diJawa Tengah,”ya, saya kan juga ingin dapat bintang, sebaiknya kan saya ikuti saja, orang beliau selalu bilang setornya langsung Presiden”. Kami prihatin akan keamanan di Jawa Tengah, jelas-jelas anak buah sendiri saja menyebut pimpinanya mafia hukum.

Pengaduan banyaknya pungli di Kepolisian Jawa Tengah yang beberapa bulan lalu pernah kami mohonkan penjelasannya, yaitu: mengenai Samsat Sukoharjo dan mahalnya biaya pengurusan kendaraan di Surakarta, dengan melayangkan surat kepada Kapolda Jawa Tengah hanya saja tidak ada penjelasan, sehingga kamipun melayangkan surat kepada Kapolri akan tetapi hingga saat ini tidak ada tindak lanjut maupun perubahan, seperti keinginan masyarakat dari pihak Kepolisian Jawa Tengah.

Keluh kesah kami ini mendapat beberapa titik terang dimana peran yang selama ini dimainkan didepan masyarakat sudah tidak bisa menutupi citra arogansi. kami berbicara dengan kawan-kawan dikepolisian yang menurut kami masih memiliki idealisme dan profesionalisme di kota dan kabupaten yang mereka pimpin yang mana seharusnya kebijaksanan Kepolisian di wilayah kota dan atau kabupaten menjadi otoritasnya, justru diambil alih kapolda dengan sistem setoran langsung ke kapolda konon katanya akan disetorkan kepada Presiden. Kami tercengang dengan akumulasi nominal yang terkumpul sebagai income Kapolda Jateng saat ini yang mencapai 18M perbulan. T anpa basa-basi kawan-kawan kami ini mengakui kelak keinginan menjadi Kapolda kelak. Saat ini kawan-kawan kami cenderung bercerita dibelakang tanpa berani melaporkan kepada petinggi polri, meski dirasakan sangat memberatkan. Kawan-kawan kami tidak ingin menjadi korban seperti beberapa kapolres yang dicopot karena alasan yang seolah-olah hanya Kapolda dan malaikat saja yang tahu. Mekanisme penyetoran dari daerah-daerah ke Kapolda tertata dengan rapi yaitu dengan waktu (hari, jam) ditentukan oleh kapolda langsung dan biasanya diserahkan pada malam hari. Yang menggelitik kami “apa kapolri tidak tahu ya?” kok sepertinya pelecehan Kapolda kepada Kapolri dan surat-surat kami berisi kinerja Kapolda Jateng tidak diperhatikan dan ditanggapi dengan serius. “Apa memang benar kapolda ini adalah kandidat kapolri yang dipersiapkan oleh presiden?” ternyata penjelasannya adalah kata-kata mukjizat yang sering diucapkan Kapolda yaitu “Saya ini yang menjadikan kapolda pak SBY, bukan Kapolri. Pak kapolri saja tidak akan berani memindahkan saya kecuali saya dinaikkan menjadi bintang tiga, kan saya ini sedang dipersiapkan menjadi salah satu kandidat Kapolri, Doakan ya.

Menengok kebelakang dari cerita-cerita tersebut kami mengingat pada awal kepemimpinanya diJawa Tengah dengan mencopot beberapa kapolres (kapolres banjarnegara dan kapolres selawi) dengan kesalahan yang sengaja dicari-cari yang mana saat ini kami ketahui mereka-mereka itu dijadikan contoh korban dan strategi Kapolda menarik simpati masyarakat.

Berikut ini keluhan kawan kami yang memiliki salah satu perusahaan terbesar, dia mengeluhkan ulah kapolda yang sedikit-sedikit minta bantuan, yang katanya untuk sarana ibadah baik islam (umroh) maupun nasrani (wisata ibadah ke Jerusalem), ternyata kawan kami ini “bos” punya teman dikepolisian yang juga dimintai kapolda sejumlah uang untuk berangkat umroh beberapa orang anggotanya. Si bos inipun terheran-heran “apa masih kurang ya yang setiap bulan saya kasih?, kok harus pakai alasan untuk mengibadahkan anggota segala.” Lagi-lagi kawan kami bilang “katanya orang dekatnya SBY ya?”

Kali ini uraian yang kami dapat dari salah satu tokoh agama mengenai polah tingkah kapolda yang sudah pernah kami layangkan kepada KAPOLRI. Cerita ini berkaitan dengan pesta pernikahan putra pak Alex di Jakarta.
Pada saat itu, Pak Alex memerintahkan seluruh pejabat di kepolisian Jateng hadir bahkan memerintahkan seluruh kapolres se Jawa Tengah untuk membawa tokoh masyarakat dan agama minimal 10 orang tokoh bahkan sebanyak-banyaknya lebih baik dan para kapolres tersebut diperintahkan untuk memfasilitasi para sesepuh ini.
Hal ini ternyata dikarena bapak presiden diundang dan berencana menghadiri pada pesta pernikahan tersebut. Ternyata tujuan dari pak kapolda ini terbaca oleh beberapa tokoh tersebut, yaitu untuk meyakinkan kepada masyarakat Jawa Tengah dan Pimipinan – pimpinan di kepolisian bahwa memiliki kedekatan khusus dengan bapak presiden.
Sebaliknya mengharapkan pengakuan di mata Bapak Presiden bahwa keberadaannya di Jawa Tengah sangat diterima masyarakat Jawa Tengah.
Kenyataan yang sebenarnya terjadi di Jawa Tengah pada saat itu, yaitu adanya pemaksaan kehadiran para tokoh-tokoh ini.
Ada kyai yang sebenarnya tidak ingin hadir, karena kyai ini sangat terkenal, kehadirannya tentulah diharapkan karena tujuan pak kapolda sangat bermuatan politik, sampai-sampai ada ucapan berapa harga yang harus dibayar agar kyai ini akan datang?” kyai inipun tertawa sampai-sampai berkata “pak kapolda kok pancasilanya keuangan yang maha kuasa ya?” kamipun tertawa terbahak-bahak dengan celetukan pak kyai tersebut.

Belum lagi hal-hal ringan tentang Penggunaan sarana protokoler yang sangat mengganggu warga kota semarang seperti misalnya serine pengawalan yang selalu digunakan meskipun di jalanan jawa tengah yang cenderung tidak pernah macet. Yang mana beberapa pejabat yang memiliki fasilitas protokoler seperti gubernur walikota, pangdam, ketua dewan dapat menggunakan sarana tersebut sesuai dengan keperluannya. Makan di restoran pada jam-jam tertentu, yang tidak mau mengerti akan keberadaan orang lain yang sedang makan siang di tempat yang sama akan tetapi seperti dipaksakan untuk mengosongkan tempat yang dikehendaki oleh kapolda sehingga kami-kami harus mengalah.

Beberapa hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas serta penyalahgunaan wewenang Kapolda telah kami layangkan langsung baik ke Polda Jawa Tengah maupun kepada Bapak Kapolri. Dan yang kami rasakan saat ini adalah ketidaknyamanan akan jaminan keamanan, melihat polah tingkah Kapolda yang seperti anak kecil, yang “aji mumpung” berorientasi ujung – ujungnya duit.

Presiden SBY adalah seorang yang Revolusioner bagi Indonesia yang membawa peradapan kemanusiaan di Indonesia menuju peradapan baru yang berkemanusiaan. Terciptanya rasa aman dan ketertiban merupakan salah satu Indikator keberhasilan Bapak Presiden. Kami sangat prihatin dengan nama Presiden. yang selalu di sangkut pautkan dengan hal-hal keArogansian seseorang yang saat ini sedang memiliki kedudukan di Kepolisian Jawa Tengah.
Kami tergerak menulis ini sebagai ungkapan rasa ketidak mampuan dan kekerdilan Kami yakini bapak Presiden tidaklah mungkin memilih para pejabat-pejabatnya yang tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang visioner.
Kami akan sangat menyesal, apabila kami tidak memberikan masukan kepada Bapak Presiden tentang keadaan yang sebenarnya, karena nama baik Bapak Presidenlah yang selalu dijual.
Kami menilai kapolda yang saat ini ada di Jawa Tengah sangatlah tidak tepat dijadikan panutan dalam kepemimpinan Kepolisian dimasa depan, Kami mengamati model Arogansi yang tertata dengan apik oleh Kapolda Jawa Tengah saat ini untuk kepentingan ambisi Individual semata.
Kami sangat tidak mengharapkan di bumi Indonesia ini akan lahirnya pimpinan-pimpinan Bangsa. Khususnya Jendral – Jendral di Kepolisian yang tidak memahami tugas dan keberadaannya di tengah masyarakat .

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian Rakyat bangsa Indonesia dan Sangat Besar Harapan kami agar Rakyat bangsa Indonesia memberikan solusi serta jawaban atas kegelisahan Masyarakat Jawa Tengah, baik masyarakat biasa, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, wirausaha dan Kami yakini ada kehendak yang sama, yang ingin disuarakan oleh kawan-kawan kami di lingkungan Kepolisian Jawa Tengah.

Siapakah Irjen Pol. Alek bambang riadmojo??

In Uncategorized on Juli 13, 2010 at 5:41 pm

Kapolda jateng ( Irjen Pol. Alek bambang riadmojo ) pagi ini, memproklamirkan diri sebagai calon tunggal kabareskrim menggantikan Komjen Pol. Ito sumardi, di depan jajarannya di polda jateng, semarang.
Hal demikian memunculkan banyak opini dari berbagai elemen, baik dari jajaran dan staf polri di polda jateng maupun dari masyarakat sipil di semarang.
Apakah keoptimisan Irjen Pol. Alek bambang riadmojo, pada saat sekarang ini di institusi POLRI tercinta sedang menjadi TREND, dan apakah hal ini merupakan budaya baru transparansi jabatan yang di dasarkan pada factor KEDEKATAN dan KEMAMPUAN SETOR ( upeti )
Kemana arah REFORMASI POLRI yang banyak di gembor gemborkan petinggi POLRI?…..Yang mana masih memilih dan mempromosikan sosok PERWIRA TINGGI POLRI untuk menduduki tampuk jabatan, dengan pandangan asalkan bisa setor. Dan bukan berdasarkan Prestasi serta Kinerja pengabdian pada Negara dan institusi.
Yang menjadi bahan pertanyaan yakni :
1.Apakah Keoptimisan dari Irjen Pol. Alek bambang riadmojo tersebut, merupakan permintaan khusus dari kapolri atau merupakan sikap Pede dari seorang pimpinan wilayah POLRI di Daerah ?
2.Bagaimana dengan kredibilitas selama ini dari Irjen Pol. Alek bambang riadmojo, yang mengukuhkan suatu jabatan berdasarkan kemampuan setor dan kedekatan, yang selama ini masih terjadi di jajaran polda Jateng ?
3.Apakah tidak ada sosok Perwira Tinggi lain yang lebih punya intelektual dengan Konsep nyata membawa perubahan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat pada institusi tercinta ini, untuk menduduki jabatan sebagai KABARESKRIM POLRI ?

Saat ini waktu yang akan menjawab, apakah institusi POLRI akan masih di pimpin oleh sosok yang diragukan KREDIBILITASNYA walaupun bukan untuk jabatan nomer satu di KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA.